Sabtu, 14 Desember 2013

Aku dan Intan




Semua berawal dari persahabatan yang melahirkan persahabatan baru. Falya, Indah, Pipit, Nisa, dan Ratih, mereka adalah sekelompok teman namun bukan sebuah geng, tapi bisa dibilang ‘KOBER’. Mereka berlima bersahabat sejak duduk dikelas 1 di SD Bina Bangsa, pengecualian Falya dan Nisa, mereka berdua lebih dulu saling kenal dari sejak mereka memulai pendidikan kelas nol besar di TK Aisyiyah, meski seperti itu tidak ada penghalang satu sama lain dari kelimanya.
            “Yeeeeeh Falya lulus kaliaaaaaan” Falya berteriak lebih dulu diantara teman lainnya, ia lebih cepat membuka amplop berwarna cokelat dari perekat tanpa cacat. Ditutur dengan teriakan teman lainnya , dengan beragam pita suara yang dimiliki, “selamat yah kalian sudah berhasil” ujar bu Uzfini     wali kelas    ditutur dengan ucapan dari guru-guru lainnya. Seluruh kelas VI   enam     berkerumun menatap lekat kertas HVS yang bertuliskan kumpulan huruf Arial berukuran ± 17 yang berisi informasi yang cukup hangat, karena terlalu hangat untuk ditatap beberapa pasang mata mengira bahwa informasi tersebut menatap balik kearahnya. Informasi tersebut berisi perintah-perintah bagi seluruh kelas VI datang ke SD Bina Bangsa pada tanggal-tanggal yang telah ditetapkan, untuk melakukan cap jari dan pengambilan Ijazah.
            Sepulangnya dari sekolah mereka berlima berjalan menuju masing-masing rumahnya yang terletak tidak jauh dari sekolah, dan saling berdekatan satu sama lain. Sepanjang jalan, mereka berceloteh dengan masing-masing memamerkan senyum renyah, dan sumringahnya wajah mereka yang juga sedang mendiskusikan SMP pilian mereka, yang akhirnya jatuh pada SMP Pelita. Tanpa mereka sadari, beberapa season yang telah diperbincangkan membuat para pejalan kaki di trotoar tertutup.
(………………..)
4 Juli 2008…
            Falya, Indah, Pipit, Nisa, dan Ratih menuju SMP Pelita untuk melihat pengumuman diterima atau tidaknya di SMP tersebut. Mulai test, hingga persyaratan lainnya dari A sampai Z telah terpenuhi dengan ikhtiar dan bantuan do’a. “Perwakilan ajadeh yang liat pengumumannya, madingnya sesak” ujar Indah, “siapa yang liat kesana?” balas Pipit yang berdiri disamping Nisa, “kamu aja deh, badanmu paling kecil, jadi ga ribet”,
tetangga jari jempol Falya menunjuk ke arah Ratih yang memang memiliki ukuran badan cukup ramping, “pantes perasaan gue gak enak dari tadi, feeling gue jarang meleset, gue pasti yang disuruh” sambung Ratih dengan candanya, “lagian ga mungkin gue yang kesana, sesak, badan gue kan jumbo hahaha” ujar Nisa.
            “Yaudah mana nomor peserta test kalian? gue gak hafal” balas Ratih sambil menyodorkan telapak tangannya. Satu per satu dari mereka menuliskan nomor peserta testnya dengan boldpoint diatas telapak tangan Ratih. Terlihat dari jarak yang cukup dekat     4 meter     telunjuk Ratih seirama naik turun dengan bola matanya yang menjelajahi nomor peserta test.
            Ratih yang baru saja keluar dari kerumunan sesak, menghampiri keempat sahabatnya dengan nafas yang terengah-engah. ”Kita berlima diterima” ujar Ratih yang sedari tadi lontarannya sangat ditunggu-tunggu oleh keempat sahabatnya, “yeeeeeeh” sorakan kompak dari kelimanya. “kalian semua bawa kertas nomor peserta test kan?” tanya Pipit yang memecahkan kegaduhan yang tercipta, “iya bawa ko, buat diserahin ke panitia kan? Kalo ga salah bu Tantan, buat pembagian kelas” papar Indah dengan jelas.
Buuuuuuuk!
            Suara berasal dari kegaduhan anak laki-laki, yang kurang tertib. ”antre dek anre….” Gertakan seorang penjaga sekolah yang berusaha menertibkan. Diantara kelimanya, Indah dipanggil lebih dulu, dari jarak yang cukup dekat Indah mengangkat kedua tangannya yang mengarah keempat sahabatnya, tangan kanan Indah menunjukkan jari jempol dan telunjuk yang mengisyaratkan angka 7, dan tangan kirinya menunjukkan angka 4 yang berarti D, “deee, gue kelas tujuh de..”. Ditutur dengan Falya VII-C, Ratih VII-E, Nisa VII-A, dan Pipit VII-B, diantara mereka tidak ada yang satu kelas.
            Detik demi detik mengubahnya menjadi tumpukan menit, yang menjadikan kumpulan jam, mengantarkan menuju esok hari, melipat menjadi kumpulan minggu, dan mengemas diri menjadi bulan.
MOS     masa orientasi siswa     masih terasa kedekatannya, dua bulan pertama mulai sedikit luntur, mungkin karna masing-masing dari mereka memiliki teman baru. Kemudian Indah dan Ratih terbawa arus temannya, mereka berdua masuk geng, segala tingkahlakunya mulai tidak wajar.
            Saat itu yang tersisa hanya Falya, Pipit, Nisa, dan Tania. Tania adalah teman akrab Pipit yang baik dan bisa dibilang cukup akrab, mungkin karna Pipit orangnya asyik, baik, dan mudah beradaptasi, itu alasan ia cepat mendapatkan teman seakrab Tania yang juga bisa bersahabat dengan Falya dan Nisa. Keempatnya mengikuti ekstrakulikuler yang sama, yaitu drumband.
            Setelah naik ke kelas VIII, Falya, Pipit, Nisa, dan Tania tidak lagi satu kelas, masing-masing di H, D, B, dan C. Pipit, Nisa dan Tania mengikuti ekstrakulikuler selain drumband, yaitu PASKIBRA, tidak dengan Falya. Mereka sangat akrab, pengecualian untuk Falya, ia memang type orang yang cukup terbilang egois, keras kepala, cuek, bahkan enggan mengikuti organisasi formal seperti PASKIBRA. Itu beberapa alasan Falya tidak memiliki banyak sahabat, bahkan untuk saat ini ia renggang dengan Pipit, Nisa dan Tania, dikarenakan tidak saling bertegur sapa lagi diantara mereka, namun Pipit, Nisa dan Tania masih tetap akrab seperti dulu.
            Saat naik ke kelas IX, Falya satu kelas bersama Indah di kelas IX-D, Nisa dengan Tania di kelas IX-F, untuk Ratih dan Pipit tidak satu kelas, mereka masing-masing di kelas H dan I. “Indah, kita duduk bareng yuk, 1 meja” tawar Falya di celah waktu yang terbilang lama untuk tidak bertegur sapa dengan sahabatnya, ”sorry gue udah dapet temen sebangku, sama Safira temen geng gue” balas Indah dengan nada yang kurang pantas untuk dilontarkan terhadap Falya, “oh…”  ujar Falya “padahal dulu pernah janji, kalo diantara kita ada yang satu kelas, kita harus sebangku, tapi sayang janji itu ga di tandatangani diatas materai” celoteh Falya perlahan dengan mulut yang enggan terbuka lebar.
            Suatu waktu Falya muak dengan segala tingkahlaku Pipit, Nisa, dan Tania yang terlalu menunjukkan sikap tidak menyukai Falya, Falya hanya mengetahui cara instant untuk meluapkan amarahnya, yaitu melalui jejaring social, karena Falya fikir dengan begitu ia akan jauh lebih lega, dan itupun salahsatu alasan karena ia tak memiliki banyak sahabat dekat yang siap mendengarkan segala keluhannya. Berbagai macam sindiran di jejaring social sudah menjadi makanan sehari-hari mereka pengecualian untuk Nisa, bisa dibilang kalem tapi tetap memihak pada Pipit dan Tania, dari kumpulan hal-hal kecil dibuat seolah wacana menarik untuk jadi trending topic di SMP Pelita.
            Dalam minggu yang sama tercium kabar bahwa Indah di drop out dari SMP Pelita, akibat kecelakaan dari remajanya. Sebagai seorang sahabat yang dulu pernah saling berbagi dan bersama kemanapun, trafik fikiran Falya kalut, riuh, iba, miris dan turut berduka atasnya, namun kehidupannya tak boleh ikut terhenti, Falya harus tetap menjadi siswi berprestasi.
Teeeeeeettt…
Satu kali terdengar bunyi bel pertanda pergantian jam pelajaran, hari rabu jam ke 2-3 itu pelajaran wali kelas yang memegang B,Indonesia di kelas IX-D. Bu Rachma tidak seperti biasanya masuk telat dan membiarkan murid-muridnya ramai, seisi kelas keheranan, tapi tetap menikmati jam luang itu, dengan berbagai aktifitas seperti membaca novel layaknya yang Falya lakukan.
“Falyaaaaa…” teriak teman lain yang berdiri didepan white board, Falya yang tidak menyukai teriakan orang itu langsung membantingkan novel yang sedang dibacanya “heh ! gausah pake teriak kali, gue ga tuli, ngpain lo manggil gue?” gertak Falya, “yeee biasa aja kali, tuh ditunggu di ruang BK sama bu Rachma dan kepala sekolah”, tanpa menjawab lagi, Falya bergegas menuju ruang BK, Falya tak henti membolak balik fikirannya seolah ia telah membuat kesalahan fatal hingga dipanggil ke ruang itu.
            Diruang BK telah ada Pipit dan Tania, “benar, ini pasti gara-gara mereka” gerutu Falya dalam hati, “duduk sayang, bicara baik-baik” ujar bu Rachma wali kelas Falya yang sangat baik. “silahkan bu…” tutur bu Elly wali kelas Tania memperssilahkan kepala sekolah memulainya.
“Ibu mendapat laporan dari anak-anak yang peduli terhadap kelakuan kalian yang memalukan, tidak penting nama anak yang melaporkannya siapa, dan saya tidak ingin menerima alasan dalam bentuk apapun akar masalah kalian, silahkan lihat!” tanpa basa-basi kepala sekolah menyodorkan beberapa lembar hasil print out yang isinya tulisan tulisan kreatif Falya, Pipit, dan Tania di jejaring social yang entah siapa yang sengaja meng-capture screen tulisan-tulisan itu, ”tapi ibu belum tau apa masalahnya, kenapa ibu ga coba tanya dulu? ini semua karena kehadiran Tania yang merubah sifat sahabat Falya jadi berubah bu…” ujar Falya yang sarannya ditolak mentah-mentah oleh ibu kepala sekolah, “Elly tolong ambil kertas dan boldpoint” ibu kepala memerintahkan pada bu Elly yang langsung beranjak dari tempat ia duduk untuk memenuhi perintah atasannya. “Saya tidak ingin panjang lebar, sekarang isi kertas ini dengan perjanjian bahwa kalian tidak akan mengulangi lagi, dan ditandatangani diatas materai, yang jika dilanggar kalian akan di drop out dari sekolah ini dan menyulitkan kalian untuk lulus UN”, Falya, Pipit dan Tania mengikuti perintah kepala sekolah, dan ditutur dengan salaman dan saling memaafkan satu sama lain.
            Detik mengantarkan menuju H-3 minggu UN, Falya, Pipit dan Tania tak lagi berselisih namun bukan berarti mereka akrab kembali, melainkan mereka masing-masing seolah tidak saling mengenal untuk menghindari dari pertingkaian yang berakibat akan di drop out dari dan dipersulit lulus UN dari SMP Pelita. Nisa sering kali menyapa Falya dicela waktu saat ia tidak bersama Pipit dan Tania, maksud Nisa memang baik, namun caranya memihak itu salah.
Setelah UN dan kelulusan, saatnya melanjutkan pendidikan SMA/SMK sederajat.
Malam hari saat Falya membaca ulang isi didalam amplop kelulusan, tiba-tiba handphone nya berdering pendek. Dengan sigap jemponya menekan opsi unlock.
1 message received from : Nisa
Assalamu’alaikum ya aku pamit, minta do’a dan restunya untk mlanjutkan pend. di pondok pesantren, & pastinya aku jarang bgt pulang ke sini, salam buat keluarga Falya yah 
Bahasa yang digunakan seperti memiliki sekat antara keduanya, mungkin karena jarangnya bermain bersama, tanpa fikir panjang Falya langsung menarikan jarinya diatas keypad.
            Relpy from : Falya
Wa’alaikumsalam, iya Nisa, pinter2 jaga diri yah, belajar yg bner, iya ntar Falya smpein ke mamah sm keluarga juga, do’ain Falya juga mau lanjutin ke SMA Merah Putih. 
            1 message received from : Nisa
Iya saling do’ain aja ya, oh SMA Merah Putih ? sm donk bareng Tania. Kalo Ratih katanya break pend. SMA 1 thn ya ? Ohya maaf atas kejadian sebelum UN, Nisa gabisa nglakuin pmbelaan apa2.
            Reply from : Falya
Iya katanya males bljar dlu. Hah ? bareng Tania lagi ? ohya gpp nis, aku faham ko, tapi mau aku waktu itu kamu ga mihak ke salahsatu dari aku sm Pipit dan Tania.
1 message received from : Nisa
            Oke sorry Falya, udah dulu yah aku mau packing buat brngkat besok.
(....................)
Pengumuman hasil test di SMA Merah Putih, Falya bertemu dengan Tania yang memiliki tujuan sama, mereka mencocokan nomor peserta test yang dipampang jelas di mading, disusun sesuai dengan ranking dan diiringi keterangan L=Lulus atau TL=Tidak Lulus, Falya memang sedang memiliki waktu luang karena ia telah Lulus masuk SMA Merah Putih, jadi ia tidak repot untuk daftar mencari SMA lain. Falya sengaja mencari nama Tania Andini untuk memastikan ia akan satu sekolah lagi kah dengannya ? ternyata Tania-pun memiliki niat yang sama, ia mencari Falya Anggia Hanan.
Sesampainya dirumah Falya mencoret-coret sebagian isi binder, sebagai bentuk kekesalannya karena telah mengetahui musuhnya satu sekolah (lagi) dengannya. Sedikit banyak berharap untuk tidak 1 gugus dengannya saat MOS nanti.
(………………..)
Pra-MOS…
            Hari dimana peserta MOS SMA Merah Putih dibagi kelompok berdasarkan gugus, gugus 1… Gugus 2… Gugus 3 terdengar suara seksi acara menyebut nama Tania Andini yang berarti ia dididik di gugus 3 selama tiga hari MOS, dua nama selanjutnya yaitu Falya Anggia Hanan yang juga masuk gugus 3 bersama Tania, ”ya Tuhan.. Bareng lagi? Kali ini makin dekat, harus lebih dekat dan profsional” gerutu Falya ke teman yang baru saja dikenalnya di ruang 5 saat test akademik.

Hari pertama masuk sekolah setelah MOS.
Falya mencari namanya dideretan nama-nama beruntung yang masuk ke SMA Merah Putih, X-1 –sepuluh satu- ia langsung menemukan namanya di absen nomor 11 dan pada nomor 34 terpampang jelas nama Tania Andini. “Yaelah, kali ini 1 tahun meeen gue harus bareng Tania” gerutunya dalam hati.
            Hari-hari terlewati biasa saja, namun semakin lama banyak tugas yang harus dikerjakan berkelompok, Falya optimis tidak akan sekelompok dengan Tania, karena Falya fikir absen 11 ke 34 itu sangat jauh, bila diibaratkan seperti Rangkasbitung-Serang. Namun beberapa guru menunjuk Falya dan  Tania satu kelomok, dari 6 mata pelajaran yang harus dikerjakan berkelompok, Falya dan Tania satu kelompok dalam 4 mata pelajaran.
Semakin hari semakin professional, keduanya sadar dan malu akan umur, akhirnya mereka mulai sedikit-sedikit saling bertegur sapa, meski keduanya masih canggung, dan segan, tapi sebisa mungkin mereka cepat beadaptasi. Keduanya sama-sama memiliki teman yang juga temannya berteman satu sama lain, apalagi teman sebangku Falya adalah teman akrabnya Tania, jadi sedikit banyak Falya dan Tania sering sharing.
(………………..)
Kenaikan kelas…
            Falya disarankan masuk jurusan IPA dari hasil psikotest, namun apa yang terjadi pada Tania? Sama. Setelah melihat daftar pembagian kelas XI IPA dibagi menjadi 3 dan IPS-pun 3 kelas. “Falya kamu masuk XI IPA 2.” Ujar temannya yang belum sempat ditebak itu suara siapa. Falya berjalan menuju mading untuk memastikan informasi yang baru saja ia dapat, namun saat dikoridor Falya dapati Tania dengan muka muram, “kenapa Tania? Ohya masuk kelas apa?” tegur  Falya basa-basi “XI IPA 2. Gini ya, gue ga sekelas sama sahabat-sahabat gue, terus gue sekelas sama orang yang gue sebelin, mana initialnya sama lagi sama gue” papar Tania, “terus masalahnya apa?” tanya Falya, “Kebayang ga sih Falya? satu kelas sama orang yang kita sebelin? satu kelas coooy bukan waktu satu hari atau dua hari, tapi 2 tahun meeeen sampe kelas XII, mana ga sekelas sama sahabat gue lagi, eh lo kelas apa ngomong-ngomong?” paparnya lagi, “sama XI IPA 2, terus sekarang lo udah dapet temen sebangku?” tanya Falya, “belum, gue duduk sama lo aja yah” Tania menawarkan diri berharap dapat anggukan setuju dari Falya, “oke, gue juga belum dapet.”
(………………..)
            Kehidupan selanjutnya disekolah sama seperti biasa, Falya dan Tania adalah teman sebangku yang tak lagi bisa terpisahkan hingga mereka kini duduk dikelas XII IPA 2 dan satu bangku (lagi).
“Banyaknya rintang yang mengantarkan aku menuju kedewasaan, yang juga menuntun kita hingga menjadi 2 insan yang saling melengkapi, aku sadar bahwa Tuhan tidak perah mengizinkan aku dan kamu terpisah, karena Tuhan mempertemukan aku dan kamu untuk menjadi kita, dan sekuat apapun aku untuk menghindar dan melawan, jika Tuhan tidak berkehendak, semua tidak akan berhasil. Aku percaya janji Tuhan yang 1 ini tentang Tuhan akan memberikan kejutan indah dibalik cover kehidupan yang dianggap makhluk-Nya sesuatu yang amat buruk. Jadi, pandai-pandailah bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita saat ini, meskipun bukan keinginan kita dihari ini, mungkin saja ini keinginan kita dimasa lampau atau dimasa yang akan datang. Dan sekarang jelas AKU SANGAT MEMBUTUHKAN DAN MENYAYANGIMU, itu salahsatu alasan terkuat aku ingin tetap bersamamu, dari ribuan alasan lain aku untuk meninggalkanmu.”
Begitu coretan di blog yang telah diposting milik Falya yang belum sempat diberi judul.


TELAH LULUS SENSOR ! BOLEH DIBACA SEMUA UMUR ! Ini serius kisah nyata aku, tapi agak sedikit dilebay-in, ada alur yg diskip, ada yg ditambahin, mohon maklum kalo’ banyak typo, buat aku… typo itu gemesin :p 
. Buat yang baca, silahkan ganti nama Falya -> Lita , dan Tania -> Intan.
buat "kutipan postingan diblog dicerita" itu buat 'someone' , sengaja diselip-in didalem cerita aku :) .