Semua
berawal dari persahabatan yang melahirkan persahabatan baru. Falya, Indah,
Pipit, Nisa, dan Ratih, mereka adalah sekelompok teman namun bukan sebuah geng,
tapi bisa dibilang ‘KOBER’. Mereka berlima bersahabat sejak duduk dikelas 1 di
SD Bina Bangsa, pengecualian Falya dan Nisa, mereka berdua lebih dulu saling
kenal dari sejak mereka memulai pendidikan kelas nol besar di TK Aisyiyah,
meski seperti itu tidak ada penghalang satu sama lain dari kelimanya.



“Yeeeeeh Falya lulus kaliaaaaaan” Falya berteriak lebih
dulu diantara teman lainnya, ia lebih cepat membuka amplop berwarna cokelat
dari perekat tanpa cacat. Ditutur dengan teriakan teman lainnya , dengan
beragam pita suara yang dimiliki, “selamat yah kalian sudah berhasil” ujar bu
Uzfini wali kelas
ditutur dengan ucapan dari guru-guru lainnya. Seluruh kelas VI enam
berkerumun menatap lekat kertas HVS
yang bertuliskan kumpulan huruf Arial berukuran ± 17 yang berisi informasi
yang cukup hangat, karena terlalu hangat untuk ditatap beberapa pasang mata
mengira bahwa informasi tersebut menatap balik kearahnya. Informasi tersebut
berisi perintah-perintah bagi seluruh kelas VI datang ke SD Bina Bangsa pada
tanggal-tanggal yang telah ditetapkan, untuk melakukan cap jari dan pengambilan
Ijazah.
Sepulangnya dari sekolah mereka berlima berjalan menuju
masing-masing rumahnya yang terletak tidak jauh dari sekolah, dan saling
berdekatan satu sama lain. Sepanjang jalan, mereka berceloteh dengan masing-masing
memamerkan senyum renyah, dan sumringahnya wajah mereka yang juga sedang mendiskusikan
SMP pilian mereka, yang akhirnya jatuh pada SMP Pelita. Tanpa mereka sadari,
beberapa season yang telah
diperbincangkan membuat para pejalan kaki di trotoar tertutup.
(………………..)
4 Juli 2008…
Falya, Indah, Pipit, Nisa, dan Ratih menuju SMP Pelita
untuk melihat pengumuman diterima atau tidaknya di SMP tersebut. Mulai test,
hingga persyaratan lainnya dari A sampai Z telah terpenuhi dengan ikhtiar dan
bantuan do’a. “Perwakilan ajadeh yang liat pengumumannya, madingnya sesak” ujar
Indah, “siapa yang liat kesana?” balas Pipit yang berdiri disamping Nisa, “kamu
aja deh, badanmu paling kecil, jadi ga ribet”,
tetangga jari jempol
Falya menunjuk ke arah Ratih yang memang memiliki ukuran badan cukup ramping,
“pantes perasaan gue gak enak dari tadi, feeling
gue jarang meleset, gue pasti yang disuruh” sambung Ratih dengan candanya,
“lagian ga mungkin gue yang kesana, sesak, badan gue kan jumbo hahaha” ujar
Nisa.

“Yaudah mana nomor peserta test kalian? gue gak hafal”
balas Ratih sambil menyodorkan telapak tangannya. Satu per satu dari mereka
menuliskan nomor peserta testnya dengan boldpoint
diatas telapak tangan Ratih. Terlihat dari jarak yang cukup dekat 4 meter
telunjuk Ratih seirama naik turun
dengan bola matanya yang menjelajahi nomor peserta test.
Ratih yang baru saja keluar dari kerumunan sesak,
menghampiri keempat sahabatnya dengan nafas yang terengah-engah. ”Kita berlima
diterima” ujar Ratih yang sedari tadi lontarannya sangat ditunggu-tunggu oleh
keempat sahabatnya, “yeeeeeeh” sorakan kompak dari kelimanya. “kalian semua
bawa kertas nomor peserta test kan?” tanya Pipit yang memecahkan kegaduhan yang
tercipta, “iya bawa ko, buat diserahin ke panitia kan? Kalo ga salah bu Tantan,
buat pembagian kelas” papar Indah dengan jelas.
Buuuuuuuk!
Suara berasal dari kegaduhan anak laki-laki, yang kurang
tertib. ”antre dek anre….” Gertakan
seorang penjaga sekolah yang berusaha menertibkan. Diantara kelimanya, Indah
dipanggil lebih dulu, dari jarak yang cukup dekat Indah mengangkat kedua
tangannya yang mengarah keempat sahabatnya, tangan kanan Indah menunjukkan jari
jempol dan telunjuk yang mengisyaratkan angka 7, dan tangan kirinya menunjukkan
angka 4 yang berarti D, “deee, gue kelas tujuh de..”. Ditutur dengan Falya
VII-C, Ratih VII-E, Nisa VII-A, dan Pipit VII-B, diantara mereka tidak ada yang
satu kelas.
Detik demi detik mengubahnya menjadi tumpukan menit, yang
menjadikan kumpulan jam, mengantarkan menuju esok hari, melipat menjadi
kumpulan minggu, dan mengemas diri menjadi bulan.

MOS masa orientasi siswa masih terasa kedekatannya, dua bulan
pertama mulai sedikit luntur, mungkin karna masing-masing dari mereka memiliki
teman baru. Kemudian Indah dan Ratih terbawa arus temannya, mereka berdua masuk
geng, segala tingkahlakunya mulai tidak wajar.
Saat itu yang tersisa hanya Falya, Pipit, Nisa, dan
Tania. Tania adalah teman akrab Pipit yang baik dan bisa dibilang cukup akrab,
mungkin karna Pipit orangnya asyik, baik, dan mudah beradaptasi, itu alasan ia
cepat mendapatkan teman seakrab Tania yang juga bisa bersahabat dengan Falya
dan Nisa. Keempatnya mengikuti ekstrakulikuler yang sama, yaitu drumband.
Setelah naik ke kelas VIII, Falya, Pipit, Nisa, dan Tania
tidak lagi satu kelas, masing-masing di H, D, B, dan C. Pipit, Nisa dan Tania
mengikuti ekstrakulikuler selain drumband,
yaitu PASKIBRA, tidak dengan Falya. Mereka sangat akrab, pengecualian untuk
Falya, ia memang type orang yang
cukup terbilang egois, keras kepala, cuek, bahkan enggan mengikuti organisasi
formal seperti PASKIBRA. Itu beberapa alasan Falya tidak memiliki banyak
sahabat, bahkan untuk saat ini ia renggang dengan Pipit, Nisa dan Tania,
dikarenakan tidak saling bertegur sapa lagi diantara mereka, namun Pipit, Nisa
dan Tania masih tetap akrab seperti dulu.
Saat naik ke kelas IX, Falya satu kelas bersama Indah di
kelas IX-D, Nisa dengan Tania di kelas IX-F, untuk Ratih dan Pipit tidak satu
kelas, mereka masing-masing di kelas H dan I. “Indah, kita duduk bareng yuk, 1
meja” tawar Falya di celah waktu yang terbilang lama untuk tidak bertegur sapa
dengan sahabatnya, ”sorry gue udah
dapet temen sebangku, sama Safira temen geng gue” balas Indah dengan nada yang
kurang pantas untuk dilontarkan terhadap Falya, “oh…” ujar Falya “padahal dulu pernah janji, kalo
diantara kita ada yang satu kelas, kita harus sebangku, tapi sayang janji itu
ga di tandatangani diatas materai” celoteh Falya perlahan dengan mulut yang
enggan terbuka lebar.
Suatu waktu Falya muak dengan segala tingkahlaku Pipit,
Nisa, dan Tania yang terlalu menunjukkan sikap tidak menyukai Falya, Falya
hanya mengetahui cara instant untuk
meluapkan amarahnya, yaitu melalui jejaring social,
karena Falya fikir dengan begitu ia akan jauh lebih lega, dan itupun salahsatu
alasan karena ia tak memiliki banyak sahabat dekat yang siap mendengarkan
segala keluhannya. Berbagai macam sindiran di jejaring social sudah menjadi makanan sehari-hari mereka pengecualian untuk
Nisa, bisa dibilang kalem tapi tetap memihak pada Pipit dan Tania, dari
kumpulan hal-hal kecil dibuat seolah wacana menarik untuk jadi trending topic di SMP Pelita.
Dalam minggu yang sama tercium kabar bahwa Indah di drop out dari SMP Pelita, akibat
kecelakaan dari remajanya. Sebagai seorang sahabat yang dulu pernah saling
berbagi dan bersama kemanapun, trafik fikiran Falya kalut, riuh, iba, miris dan
turut berduka atasnya, namun kehidupannya tak boleh ikut terhenti, Falya harus
tetap menjadi siswi berprestasi.
Teeeeeeettt…
Satu
kali terdengar bunyi bel pertanda pergantian jam pelajaran, hari rabu jam ke
2-3 itu pelajaran wali kelas yang memegang B,Indonesia di kelas IX-D. Bu Rachma
tidak seperti biasanya masuk telat dan membiarkan murid-muridnya ramai, seisi
kelas keheranan, tapi tetap menikmati jam luang itu, dengan berbagai aktifitas
seperti membaca novel layaknya yang Falya lakukan.
“Falyaaaaa…” teriak
teman lain yang berdiri didepan white
board, Falya yang tidak menyukai teriakan orang itu langsung membantingkan
novel yang sedang dibacanya “heh ! gausah pake teriak kali, gue ga tuli, ngpain
lo manggil gue?” gertak Falya, “yeee biasa aja kali, tuh ditunggu di ruang BK sama
bu Rachma dan kepala sekolah”, tanpa menjawab lagi, Falya bergegas menuju ruang
BK, Falya tak henti membolak balik fikirannya seolah ia telah membuat kesalahan
fatal hingga dipanggil ke ruang itu.
Diruang BK telah ada Pipit dan Tania, “benar, ini pasti
gara-gara mereka” gerutu Falya dalam hati, “duduk sayang, bicara baik-baik”
ujar bu Rachma wali kelas Falya yang sangat baik. “silahkan bu…” tutur bu Elly
wali kelas Tania memperssilahkan kepala sekolah memulainya.
“Ibu mendapat laporan
dari anak-anak yang peduli terhadap kelakuan kalian yang memalukan, tidak
penting nama anak yang melaporkannya siapa, dan saya tidak ingin menerima alasan
dalam bentuk apapun akar masalah kalian, silahkan lihat!” tanpa basa-basi
kepala sekolah menyodorkan beberapa lembar hasil print out yang isinya tulisan tulisan kreatif Falya, Pipit, dan
Tania di jejaring social yang entah
siapa yang sengaja meng-capture screen
tulisan-tulisan itu, ”tapi ibu belum
tau apa masalahnya, kenapa ibu ga coba tanya dulu? ini semua karena kehadiran
Tania yang merubah sifat sahabat Falya jadi berubah bu…” ujar Falya yang
sarannya ditolak mentah-mentah oleh ibu kepala sekolah, “Elly tolong ambil
kertas dan boldpoint” ibu kepala
memerintahkan pada bu Elly yang langsung beranjak dari tempat ia duduk untuk
memenuhi perintah atasannya. “Saya tidak ingin panjang lebar, sekarang isi
kertas ini dengan perjanjian bahwa kalian tidak akan mengulangi lagi, dan
ditandatangani diatas materai, yang jika dilanggar kalian akan di drop out dari sekolah ini dan
menyulitkan kalian untuk lulus UN”, Falya, Pipit dan Tania mengikuti perintah
kepala sekolah, dan ditutur dengan salaman dan saling memaafkan satu sama lain.
Detik mengantarkan menuju H-3 minggu UN, Falya, Pipit dan
Tania tak lagi berselisih namun bukan berarti mereka akrab kembali, melainkan
mereka masing-masing seolah tidak saling mengenal untuk menghindari dari
pertingkaian yang berakibat akan di drop
out dari dan dipersulit lulus UN dari SMP Pelita. Nisa sering kali menyapa
Falya dicela waktu saat ia tidak bersama Pipit dan Tania, maksud Nisa memang
baik, namun caranya memihak itu salah.
Setelah
UN dan kelulusan, saatnya melanjutkan pendidikan SMA/SMK sederajat.
Malam
hari saat Falya membaca ulang isi didalam amplop kelulusan, tiba-tiba handphone nya berdering pendek. Dengan
sigap jemponya menekan opsi unlock.
1
message received from : Nisa
Assalamu’alaikum ya aku pamit, minta do’a dan restunya
untk mlanjutkan pend. di pondok pesantren, & pastinya aku jarang bgt pulang
ke sini, salam buat keluarga Falya yah
Bahasa yang digunakan
seperti memiliki sekat antara keduanya, mungkin karena jarangnya bermain
bersama, tanpa fikir panjang Falya langsung menarikan jarinya diatas keypad.
Relpy from : Falya
Wa’alaikumsalam, iya Nisa, pinter2
jaga diri yah, belajar yg bner, iya ntar Falya smpein ke mamah sm keluarga juga,
do’ain Falya juga mau lanjutin ke SMA Merah Putih.
1 message received from
: Nisa
Iya saling do’ain aja ya, oh SMA
Merah Putih ? sm donk bareng Tania. Kalo Ratih katanya break pend. SMA 1 thn ya ? Ohya maaf atas kejadian sebelum UN, Nisa
gabisa nglakuin pmbelaan apa2.
Reply from : Falya
Iya katanya males bljar dlu. Hah ?
bareng Tania lagi ? ohya gpp nis, aku faham ko, tapi mau aku waktu itu kamu ga
mihak ke salahsatu dari aku sm Pipit dan Tania.
1
message received from : Nisa
Oke sorry Falya, udah dulu yah aku mau packing buat brngkat besok.
(....................)
Pengumuman
hasil test di SMA Merah Putih, Falya bertemu dengan Tania yang memiliki tujuan
sama, mereka mencocokan nomor peserta test yang dipampang jelas di mading,
disusun sesuai dengan ranking dan diiringi keterangan L=Lulus atau TL=Tidak
Lulus, Falya memang sedang memiliki waktu luang karena ia telah Lulus masuk SMA
Merah Putih, jadi ia tidak repot untuk daftar mencari SMA lain. Falya sengaja
mencari nama Tania Andini untuk memastikan ia akan satu sekolah lagi kah
dengannya ? ternyata Tania-pun memiliki niat yang sama, ia mencari Falya Anggia
Hanan.
Sesampainya
dirumah Falya mencoret-coret sebagian isi binder, sebagai bentuk kekesalannya
karena telah mengetahui musuhnya satu sekolah (lagi) dengannya. Sedikit banyak
berharap untuk tidak 1 gugus dengannya saat MOS nanti.
(………………..)
Pra-MOS…
Hari dimana peserta MOS SMA Merah Putih dibagi kelompok
berdasarkan gugus, gugus 1… Gugus 2… Gugus 3 terdengar suara seksi acara
menyebut nama Tania Andini yang berarti ia dididik di gugus 3 selama tiga hari
MOS, dua nama selanjutnya yaitu Falya Anggia Hanan yang juga masuk gugus 3
bersama Tania, ”ya Tuhan.. Bareng lagi? Kali ini makin dekat, harus lebih dekat
dan profsional” gerutu Falya ke teman yang baru saja dikenalnya di ruang 5 saat
test akademik.
Hari pertama masuk
sekolah setelah MOS.
Falya mencari namanya
dideretan nama-nama beruntung yang masuk ke SMA Merah Putih, X-1 –sepuluh satu-
ia langsung menemukan namanya di absen nomor 11 dan pada nomor 34 terpampang jelas
nama Tania Andini. “Yaelah, kali ini 1 tahun meeen gue harus bareng Tania”
gerutunya dalam hati.
Hari-hari terlewati biasa saja, namun semakin lama banyak
tugas yang harus dikerjakan berkelompok, Falya optimis tidak akan sekelompok dengan
Tania, karena Falya fikir absen 11 ke 34 itu sangat jauh, bila diibaratkan
seperti Rangkasbitung-Serang. Namun beberapa guru menunjuk Falya dan Tania satu kelomok, dari 6 mata pelajaran
yang harus dikerjakan berkelompok, Falya dan Tania satu kelompok dalam 4 mata
pelajaran.
Semakin hari semakin
professional, keduanya sadar dan malu akan umur, akhirnya mereka mulai
sedikit-sedikit saling bertegur sapa, meski keduanya masih canggung, dan segan,
tapi sebisa mungkin mereka cepat beadaptasi. Keduanya sama-sama memiliki teman
yang juga temannya berteman satu sama lain, apalagi teman sebangku Falya adalah
teman akrabnya Tania, jadi sedikit banyak Falya dan Tania sering sharing.
(………………..)
Kenaikan kelas…
Falya disarankan masuk jurusan IPA dari hasil psikotest,
namun apa yang terjadi pada Tania? Sama. Setelah melihat daftar pembagian kelas
XI IPA dibagi menjadi 3 dan IPS-pun 3 kelas. “Falya kamu masuk XI IPA 2.” Ujar
temannya yang belum sempat ditebak itu suara siapa. Falya berjalan menuju
mading untuk memastikan informasi yang baru saja ia dapat, namun saat dikoridor
Falya dapati Tania dengan muka muram, “kenapa Tania? Ohya masuk kelas apa?”
tegur Falya basa-basi “XI IPA 2. Gini
ya, gue ga sekelas sama sahabat-sahabat gue, terus gue sekelas sama orang yang
gue sebelin, mana initialnya sama lagi sama gue” papar Tania, “terus masalahnya
apa?” tanya Falya, “Kebayang ga sih Falya? satu kelas sama orang yang kita
sebelin? satu kelas coooy bukan waktu satu hari atau dua hari, tapi 2 tahun
meeeen sampe kelas XII, mana ga sekelas sama sahabat gue lagi, eh lo kelas apa
ngomong-ngomong?” paparnya lagi, “sama XI IPA 2, terus sekarang lo udah dapet
temen sebangku?” tanya Falya, “belum, gue duduk sama lo aja yah” Tania
menawarkan diri berharap dapat anggukan setuju dari Falya, “oke, gue juga belum
dapet.”
(………………..)
Kehidupan selanjutnya disekolah sama seperti biasa, Falya
dan Tania adalah teman sebangku yang tak lagi bisa terpisahkan hingga mereka
kini duduk dikelas XII IPA 2 dan satu bangku (lagi).
“Banyaknya rintang yang mengantarkan aku menuju kedewasaan, yang juga menuntun kita hingga
menjadi 2 insan yang saling melengkapi, aku sadar bahwa Tuhan tidak perah
mengizinkan aku dan kamu terpisah, karena Tuhan mempertemukan aku dan kamu
untuk menjadi kita, dan sekuat apapun aku untuk menghindar dan melawan, jika Tuhan
tidak berkehendak, semua tidak akan berhasil. Aku percaya janji Tuhan yang 1
ini tentang Tuhan akan memberikan kejutan indah dibalik cover kehidupan yang dianggap makhluk-Nya sesuatu yang amat buruk.
Jadi, pandai-pandailah bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita saat ini,
meskipun bukan keinginan kita dihari ini, mungkin saja ini keinginan kita
dimasa lampau atau dimasa yang akan datang. Dan sekarang jelas AKU SANGAT MEMBUTUHKAN DAN MENYAYANGIMU, itu salahsatu alasan terkuat aku ingin tetap bersamamu, dari ribuan alasan lain aku untuk meninggalkanmu.”
Begitu coretan di blog yang
telah diposting milik Falya yang
belum sempat diberi judul.